Senin, 06 Mei 2013

Teori Kepemimpinan (Psikologi Sosial)


Teori Kepemimpinan
 
1. Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )

Analisis ilmiah tentang kepemimpinan beerangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan
Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan , bukannya diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan “the greatma theory”

Dalam perkemabangannya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwaa sifat – sifat kepemimpinan tidak
seluruhnya dilahirkan, akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain ; sifat fisik, mental dan kepribadian


2. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi

Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan kea rah dua hal


Pertama yang disebut Konsiderasi yaitu kecenderungan pemimpin yangØ menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia bekonsultasi dengan bawahan.
Kedua disebut struksur inisiasi yaitu kecenderungan seorang pemimpinØ yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat, bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil apa yang akan dicapai.
Jadi berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi juga.
Kemudian juga timbul teori kepemimpinan situasi dimana seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan
.

3. Teori kontingensi

Mulai berkembang th 1962, teori ini menyatakan bahwa tidak ada satu sistem manajemen yang optimum, sistem tergantung pada tingkat perubahan lingkungannya. Sistem ini disebut sistem organik (sebagai lawan sistem mekanistik), pada sistem ini mempunyai beberapa ciri:
 
¯ Substansinya adalah manusia bukan tugas
.
¯ Kurang menekankan hirarki
 
¯ Struktur saling berhubungan, fleksibel, dalam bentuk kelompok

¯ Kebersamaan dalam nilai, kepercayaan dan norma
 
¯ Pengendalian diri sendiri, penyesuaian bersama


4. Teori Behavioristik

Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Pendekatan ini menekankan bahwa manajemen yang efektif bila ada pemahaman tentang pekerja – lebih berorientasi pada manusia sebagai pelaku
.
Beberapa tokohnya, antara lain:

a. Maslow

Individu mempunyai 5 kebutuhan dasar yaitu physical needs, security needs, social needs, esteem needs, self actualization needs. Kebutuhan tersebut akan menimbulkan suatu keinginan untuk memenuhinya. Organisasi perlu mengenali kebutuhan tersebut dan berusaha memenuhinya agar timbul kepuasan.

b. Douglas Mc Gregor (1906-1964)

Teori X dan teori Y
 
Teori X melihat karyawan dari segi pessimistik, manajer hanya mengubah kondisi kerja dan mengektifkan penggunaan rewards & punishment untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Teori Y melihat karyawan dari segi optimistik, manajer perlu melakukan pendekatan humanistik kepada karyawan, menantang karyawan untuk berprestasi, mendorong pertumbuhan pribadi, mendorong kinerja.
 

5. Teori Humanistik

Teori ini lebih menekankan pada prinsip kemanusiaan. Teori humanistic biasanya dicirikan dengan adanya suasana saling menghargai dan adanya kebebasan. Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris, Blake dan Mouton, Rensis Likert, dan Douglas McGregor. Teori ini secara umum berpendapat, secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Apabila dicermati, didalam Teori Humanistik, terdapat tiga variabel pokok, yaitu; (1), kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan, kebutuhan, dan kemampuan-nya, (2), organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan, dan (3), interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. Blanchard, Zigarmi, dan Drea bahkan menyatakan, kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain, melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi, 2001).

Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:
- Gaya 1 : telling, pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya.
- Gaya 2 : selling, pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
- Gaya 3 : participating, pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan.
- Gaya 4 : delegating, pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya.
 
.
PENGERTIAN KEPEMIMPINANDari akar kata “pimpin” kita mengenal kata “pemimpin” dan “kepemimpinan”.Dalam Ensiklopedi Umum, halaman 549 kata “kepemimpinan” ditafsirkansebagai hubungan yang erat antara seorang dan sekelompok manusiakarena adanya kepentingan bersama; hubungan Itu ditandai oleh tingkahlaku yang tertuju dan terbimbing dari manusla yang seorang itu. Manusiaatau orang ini biasanya disebut yang memimpin atau pemimpin, sedangkankelompok manusia yang mengikutinya disebut yang dipimpin
Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.


Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).

Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
·         Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia;
·         Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya
·         Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain
·         Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya
·         Dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin

Berikut ini disajikan beberapa gaya kepemimpinan :
1. Birokratis
Jenis kepemimpinan seperti ini adalah gaya yang patuh terhadap peraturan. Para pemimpin dengan gaya kepemimpinan birokratis menganggap bahwa segala kesulitan akan dapat diatasi jika setiap orang mematuhi peraturan. Suatu sistem adalah hal yang mutlak ada pada gaya kepemimpinan seperti ini. Jika dikaitkan dengan dunia bisnis, gaya kepemimpinan yang umumnya menggunakan cara kepemimpinan birokratis adalah para birokrat yang berada pada perusahaan negara.

2. Permisif
Pemimpin dengan gaya kepemimpinan permisif akan selalu berkeinginan untuk membuat setiap orang yang berada dalam kelok puas. Gaya ini menganggap bahwa bila orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka dengan demikian organisasi akan berfungsi. Pemimpin yang permisif menginginkn agar setiao orang merasa senang dalam organisasi. Gaya kepemimpinan seperti ini akan mengurangi turnover karyawan.

3. Laissez Faire Gaya kepemiminan seperti ini membiarkan segalanya berjalan dengan sendirinya. Pemimpin hanya terlibat pada kuantitas kecil di mana para bawahan secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. Jarang sekali perusahaan yang menggunakan gaya kepemimpinan seperti ini. Jikalau ada umumnya gaya ini dipakai oleh pemimpin yang sering bepergian atau bertugas sementara. Gaya kepemimpinan ini cocok diberlakukan pada perusahaan konsultan atau auditor.
4. Partisipatif Gaya ini dipakai untuk memotifasi bawahan melalui pelibatan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin mengharapkan agar karyawan mampu bekerja sama dalam pencapaian tujuan. Gaya kepemimpinan seperti cocok dilakukan pada perusahaan dimana keputusan harus dilaksanakan bersama.
5. Otokratis

Gaya ini ditandai dengan kebergantingan pada yang berwenang dan menganggap bahwa bawahan hanya akan melakukan sesuatu jika diperintah. Gaya kepemimpinan seperti ini akan tampak seperti dictator. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. Umumnya gaya kepemimpinan seperti ini dilaksanakan pada negara-negara yang menganut asas komunis.
6. Demokratis Kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Jika ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim. Pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya

Kepemimpinan dikatakan efektif jika mampu menumbuhkan dan memelihara serta mengembangkan usaha dan iklim kondusif di dalam kehidupan organisasional.
Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :
· Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
· Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
· Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan.
· Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi memerlukan pemimpinnya itu.
· Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin.
· Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya. Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila adalah :
v Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang – orang yang dipimpinnya.
v Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang – orang yang dibimbingnya.
v Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang – orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab.
Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence, respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhidan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
o Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
o Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
o Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
o Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya
Ø Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal.
o Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
o Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
Ø Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
Ø Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
Ø Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya
seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni :
Q Kemampuan analitis (analytical skills) yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
Q Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills) yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap situasi.
Q Kemampuan berkomunikasi (communication skills) yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang kita terapkan.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Efektivitas Pemimpin
Menurut H. Jodeph Reitz (1981) faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pemimpin meliputi: 1) kepribadian (personality) pengalaman masa lalu dan harapan pemimpin,  2) harapan an perilaku atasan, 3) karakteristik harapan dan perilaku bawahan, dan 6) harapan dan perilaku rekan. Faktor-faktor itu mempengaruhi pimpinan dan bawahan secara timbal balik.
karakteristik pemimpin berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka seorang pemimpin harus memiliki:
-    Kekuatan jasmani yang cukup
-    Kekuatan rohani yang cukup
-    Semangat untuk mencapai tujuan
-    Penuh antusias
-    Ramah dan penuh perasaan
-    Jujur dan adil
-    Memiliki kecakapan teknis
-    Dapat mengambil keputusan
-    Cerdas
-    Punya kecakapan mengajar
-    Penuh keyakinan
-    Punya keberanian
-    Ulet dan tahan uji
-    Suka melindungi
-    Penuh inisiatif
-    Memiliki daya tarik
-    Simpatik
-    Percaya diri
-    Intelegansi tinggi
-    Waspada
-    Bergairah dalam bekerja
-    Bertanggung jawab
-    Rendah hati
-    Objektif
BAGAIMANA KEPEMIMPINAN AKAN BERHASIL?
ADA 7 KRITERIA :
1.    KARAKTER KUAT SEORANG PEMIMPIN
2.    MEMILIKI VISI MISI YANG JELAS
3.    MENGGIRING TANPA PAKSAAN
4.    EFEKTIF DAN EFISIEN DALAM BERKOMUNIKASI
5.    PEMIMPIN YANG ANTISIPATIF TERHADAP MASALAH
6.    SUKSES MEMBERDAYAKAN TIM
7.    MENGGAPAI KESUKSESAN BERIKUTNYA
8.    KARAKTER  KUAT SEORANG PEMIMPIN
1. Karismatik
Seorang pemimpin yang karismatik, akan      disegani lawan maupun kawan. Karismatik     bukanlah sikap yang dibuat-buat, tetapi     cenderung pada pancaran alami yang     muncul dalam diri. Karisma yang muncul     dari     setiap orang berbeda-beda, maka     tugas kita     adalah memunculkan karisma     kita agar     berguna dalam memimpin     orang-orang yang dipimpin.

2. Memiliki Integritas.
Pemimpin yang memiliki integritas akan     lebih disegani teman ataupun lawan.
Integritas tinggi seorang pemimpin akan     membawa perubahan baik,  karena         dengan integritas tersebut campur tangan     pihak lain bisa diminimalisasi.
Integritas berguna untuk menjaga agar     pemimpin tetap pada jalurnya, sehingga     apa yang ditargetkan dengan mudah     terpenuhi.

3. Gunakan Kekuasaan Sesuai Porsinya
Kekuasaan adalah hal penting dalam     kepamimpinan. Dengan kekuasaan maka     anda akan tahu batas-batas dalam     memimpin. Kekuasaan bukanlah inti dari     kepemimpinan sebab jika kekuasaan         digunakan secara sewenang-wenang tentu     akan membuat orang lain / yang dipimpin     akan lengah dan cenderung akan melawan     / memberontak. Gunakanlah kekuasaan     sesuai porsinya dan jangan menjadikan     kekuasaan sebagai satu-satunya cara     untuk memimpin

4. Komitmen Tinggi
Komitmen bisa diibaratkan seperti ikatan.     Jika memiliki komitmen berarti anda     memiliki keterikatan. Orang yang sudah     merasa terikat komitmen tertentu akan     sulit untuk pindah pada komitmen lain.
Jika seorang pemimpin memiliki     komitmen     tinggi, maka akan sangat     efektif karena bisa menjadi contoh bagi     anak buah / bawahan.

5. Memiliki Ketenangan
Disaat keadaan tegang dan genting, yang     diperlukan bukanlah ketergesa-gesaan,     tetapi suatu ketenangan.
Ketenangan dalam menghadapi masalah     merupakan ciri seorang pemimpin yang     berpikiran matang dan dewasa.
6. Bersikap Adil
Sikap adil adalah mutlak yang harus     dimiliki seorang pemimpin. Keadilan harus     dimulai dari diri sendiri, karena jika sudah     mampu bersikap adil terhadap diri sendiri     maka akan lebih mudah adil terhadap     orang lain. Adil disini bukan berarti     dipukul     rata, melainkan disesuaikan     dengan     kebutuhan dan kemampuan.
7. Beretika
Etika adalah hal penting dalam hubungan     dengan orang lain. Pemimpin yang     beretika akan mampu menyesuaikan diri     dimanapun dan kapan pun ia berada.
Etika seorang pemimpin akan     mencerminkan bagaimana kemampuan     seorang pemimpin dan bagaimana dalam     memimpin. Jika memiliki etika baik tentu     kawan dan lawan akan segan.
8. Penuh Tanggung Jawab
Seorang pemimpin harus memiliki rasa     tanggung jawab terhadap apa yang     dilakukan dirinya maupun yang     dipimpinnya. Pemimpin yang baik tidak     boleh melempar tanggung jawab apabila     terjadi kesalahan yang dilakukan dirinya     atau yang dipimpinya
9. Kepercayaan Diri Tinggi
Percaya diri adalah hal penting dalam setiap     melakukan tindakan. Tanpa adanya rasa     percaya diri, maka semua tindakan akan     menjadi ragu-ragu. Keraguan tersebut     mengakibatkan setiap tindakan seakan     berjalan setengah-setengah karena adanya     kekhawatiran. Pemimpin yang memiliki     kepercayaan diri tinggi bisa diibaratkan sudah     melangkah setengah jalan sebelum tujuan     tercapai. Kepercayaan diri juga dapat     menimbulkan rasa optimis dan berani. Jadi     saatnya melangkah dengan penuh percaya     diri dan yakin bahwa anda bisa
10. Tidak Takut Perubahan
Perubahan bagi seorang pemimpin bukanlah      untuk ditakuti, tetapi untuk dikelola dengan     baik.
Perubahan adalah dinamika yang tidak bisa     dihindarkan dalam sendi kehidupan. Jika     ingin     mencapai tujuan, tentu harus mau tidak     mau     lebih adaptif terhadap setiap     perubahan.
Manusia adalah makhluk dinamis yang     mampu menerima hal baru asalkan sesuai     dengan nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat.     Adanya perubahan merupakan sebuah     tantangan yang mengasyikkan jika mampu     menikmatinya.
11. Berani Berkorban
Sifat sesungguhnya dari sebuah     kepemimpinan adalah pengorbanan.     Semakin tinggi kepemimpinan maka akan     semakin tinggi pula pengorbanannya.
Pemimpin ideal adalah pemimpin yang     tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi     juga anak buah / karyawannya. Dengan     bersikap seperti itu maka loyalitas akan     terbangun dengan sendirinya.
12. Menjunjung Tinggi Kejujuran
Kejujuran adalah hal mutlak dalam rangka     mencapai tujuan. Tanpa kejujuran, maka     akan banyak hambatan yang berujung     pada kegagalan pencapaian.
13. Disiplin
Disiplin merupakan salah satu kunci     utama keberhasilan. Jangan sekali-kali     bertindak  indisipliner sebab akan     menghambat kinerja. Disiplin harus     dimulai dari anda sebagai seorang     pemimpin hingga pada pelaksana di     lapangan. Jika salah satu bagian tidak     disiplin, maka akan menghambat bagian     yang lain.
14. Memandang dari Sudut Lain.
Kemampuan memandang dari sudut yang     lain merupakan kemampuan yang harus     dimiliki setiap pemimpin. Adakalanya     perbedaan timbul diantara pemimpin     ataupun antar bawahan. Jika mampu     memahami sudut pandang yang berbeda     dengan baik maka tujuan akan mudah     tercapai.
15. Berwibawa
Berwibawa adalah salah satu syarat     pemimpin. Seorang pemimpin yang     berwibawa akan membuat orang segan     padanya. Dengan wibawa pula seorang     pemimpin akan dengan mudah     mempengaruhi anak buah. Wibawa harus     diletakkan pada tempatnya, jangan     sampai     terbawa pada tempat lain yang     berlebihan     karena akan membuat     orang lain merasa     tidak nyaman.     Karena wibawa yang digunakan     secara     berlebihan cenderung mengarah pada     sikap angkuh.
16. Keinginan untuk Memimpin
Keinginan memimpin adalah hal yang harus     dimiliki seorang pemimpin. Jika tidak     memiliki     keinginan memimpin, maka yang     ada     hanyalah perasaan terpaksa dan akan     menemui kegagalan.
Pemimpin yang baik akan menganggap     sebuah kepercayaan sebagai tanggung jawab,     bukannya keterpaksaan. Dengan rasa     tanggung jawab tersebut, maka semangat     memimpin akan berlipat. Sebaliknya jika     diliputi  rasa keterpaksaan maka memimpin     adalah suatu beban berat yang semakin     bertumpuk.
17. Pro Aktif
Sikap pro aktif bisa diartikan sebagai     sikap menahan diri terhadap situasi,     namun dengan toleransi tertentu.
18. Objektif dalam Menilai
Kemampuan menilai segala hal secara     objektif     sangatlah diperlukan  agar     mampu melihat     sesuatu secara jujur dan     menyeluruh. Jika memiliki     menilai secara     objektif, tentu tidak ada yang namanya     kolusi dan nepotisme. Pemimpin yang     demikian akan mampu membentuk tim     yang solid sehingga akan memudahkan     dalam mencapai tujuan.
Jika mampu menilai secara objektif maka     tidak ada lagi pihak yang merasa iri atau     dianaktirikan



2 komentar:

  1. bisa minta daftar pustakanya?buat tambahan refrensi skripsi.
    kalo ya langsung ke email aja. hatee.echy@gmail.com
    makasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf sobat sebelumnya untuk daftar pustakanya gak ada.

      Hapus